Selasa, Mei 25, 2010


It was so long ago when I thought I'd never meet someone like you. 
Wrong was I, thinking I'm in control
Believing I'd never fall.

All my life I thought no one would
melt a heart like mine, a heart so cold,
a heart hardened by the past,
protected by shields so vast.

Slowly I was falling
without even knowing.
Only to find out too late
I have no choice but to accept my fate.

I could dream, I suppose
forever, I could hope
there will never be any 'us', that's our destiny
so I wake up to reality.

I lied when I said
I didn't love you,
that my feelings for you
are through.

I lied
not because I wanted to
but because I love you
and I still do.

I wouldn't do a thing to hurt you
but I just have to let go.
I can't hold on much longer

'coz for us there's no forever.


quoted from http://poemthinkingofyou.blogspot.com/

broken home


istilah ini sungguh tidak asing lagi. sejak masih kecil, remaja, sampai sekarang (hampir) dewasa, rasanya makin banyak teman (atau mungkin saya) yang terkena issue "broken home". secara harafiah, "broken home" berarti "keadaan rumah rusak", atau secara lebih "modern by stephanie's mind" dapat diartikan : "keadaan dimana rumah tak lagi sebagaimana rumah seharusnya". dalam arti, jika selama ini rumah diartikan sebagai tempat yang seharusnya paling aman, nyaman, menyenangkan dan darinya kita beroleh kedamaian dari orang-orang yang terikat secara batin disebut "keluarga", situasi "broken home" membuatnya doesnt seem as it used to be. kondisi ini should be something common, kapanpun, dimanapun. tidak ada orang yang ingin keluarganya berantakan, tidak ada orang yang memilih untuk hidup tidak bahagia, tidak ada orang yang sanggup memilih dari pasangan bagaimana dia akan dilahirkan, tidak ada orang yang mengimpikan hidup dengan single parents dan memang TIDAK ADA HAL DI DUNIA INI YANG SENANTIASA BERJALAN SESUAI YANG KITA IMPIKAN, BUKAN? 

satu-satunya hal yang mengganggu pikiranku adalah stigma masyarakat tentang "broken home" itu sendiri.  mengapa sebagian masyarakat harus menilainya secara skeptis? seolah-olah menjadi output dari keluarga "broken home" adalah DOSA! tidak adil. unfair. padahal begitu banyak dinamika lain dalam kehidupan kita, yang jauh lebih layak untuk dikategorikan "berdosa". ex: sekumpulan anak2 SMA Rex Mundi yang create sex orgy party, yang kebanyakan dari kalangan keluarga "baik-baik dan berduit" itu. 

orang harusnya lebih belajar bagaimana melihat sebuah masalah dari dua arah. aku menjumpai begitu banyak anak yang mentalnya tertadah dengan sempurna dari kondisi "broken home". aku melihat bagaimana mereka ditempa, jadi jauh lebih kuat dari anak-anak mami kebanyakan. dan kalaupun bisa ditarik survey, pasti anak-anak seperti ini punya naluri "survival of the fittest" jauh lebih tangguh dari anak-anak keluarga adem ayem. orang harusnya lebih membuka mata kalau tidak semua anak-anak brutal, rebel, nakal, wildy, atau apapun itu disebut yang berkonotasi negatif itu, adalah hasil produksi keluarga "broken home". ya memang ada, yang dengan alasan kurang kehangatan, kasih sayang, sehingga runaway ke hal2 yang negatif. but personally for me, that's only their stupid reason to hide their immature mind. bukankah, as Bible said : ”pencobaan – pencobaan yang kamu alami adalah pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai ia akan memberikan kepadamu, jalan keluar, sehingga kamu dapat menanggungnya”. 

so, open your eyes, dont judge if u dont want to be judged. cos we only human. karena, semua masalah kita telah diukur oleh-Nya. bersyukurlah, jika kau mendapatkan yang lebih berat (and i categorized "broken home guys" as a hard one), karena upahmu, lebih besar. 


Senin, Mei 17, 2010

Air Terjun Pengantin


sekilas mengingatkanku pada film "The Ruins" produksi Hollywood tahun 2007 (kalo nda salah) tentang sekelompok temans yang vacation ke sebuah pulau mistis, dan tiba2 satu per satu mati sampai akhirnya based on the survival of the fittest theory, menyisakan sang pemeran utama saja. Ide tentang ilmu hitam, dukun, memang lumayan menarik untuk diangkat, seperti Tusuk Jailangkung (2002) yang sampai sekarang bagiku, is one of the best Indonesia's horror movie ever made. Namun sekarang originalitas ide horor itu sendiri sedikit "terganggu" dengan fenomena buka-bukaan para pemainnya. bahkan pemain yang well, tak bisa dikatakan muda lagi, Tamara. Memang sebuah daya tarik sendiri, mencerminkan bahwa ternyata budaya kita tidak sekaku "Budaya Timur, as it supposed to be", tapi..apakah memang berpengaruh pada penyampaian velue film itu sendiri??? i dont think so. but still, *entertaining*

Minggu, Mei 16, 2010

18+


oh pak sutradara, usahamu untuk membuat film ini terlihat seperti film Hollywood dengan alur cepat, intrik tak terduga dan "kelainan-kelainan" setiap pemainnya, didnt work! congrats!


PS : tapi kayaknya satu dari pemain ini baru2 Arumi diberitakan sama infotainment officially "minggat" karena merasa di-eksploitasi sama ibunya. well, well, seems like the plots on the movie was too adaptable for the player! http://emo.huhiho.com